Rajutan Rindu Lintas Generasi: Reuni Akbar Wijanna Nenek Lampe dan Nenek Pundung Berlangsung Meriah di Sidrap
KABAR ZODIAC.COM, SIDRAP - Suasana Haru
dan bahagia, pelukan hangat, dan gelak tawa mewarnai Desa Tonrong, Kecamatan
Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Pada Ahad, 31 Mei 2026, suasana
penuh kehangatan menyelimuti wilayah tersebut saat puluhan anggota keluarga
besar dari keturunan pasangan suami istri leluhur, Nenek Lampe dan Nenek
Pundung, berkumpul dalam acara Reuni Akbar, Syukuran, dan Silaturahmi.
Pertemuan
ke-4 ini menjadi momentum yang sangat istimewa karena berhasil mempertemukan
kembali rumpun keluarga yang kini telah tersebar di berbagai daerah, mulai dari
generasi kedua hingga garis keturunan generasi kelima.
Sebelum kemeriahan acara dimulai, suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti seluruh keluarga besar saat melakukan ziarah bersama ke makam leluhur mereka, Nenek Lampe dan Nenek Pundung. Langkah kaki lintas generasi ini berjalan beriringan menuju pusara, menjadi simbol bahwa sejauh apa pun mereka merantau, mereka tidak akan pernah lupa dari mana mereka berasal.
Di depan
makam sang leluhur, seluruh keluarga bersimpuh, mengirimkan doa-doa terbaik,
sekaligus mengenang kembali perjuangan masa lalu pasutri tercinta yang menjadi
cikal bakal besarnya keluarga ini. Momen ziarah ini tidak hanya sekadar ritual,
melainkan pengingat bagi generasi muda akan pentingnya menghormati akar sejarah
dan menjaga nama baik keluarga.
Reuni kali
ini mengusung tema mendalam yang diambil dari falsafah luhur budaya Bugis:
"Massiddi,
maringerrang, na sipammase-mase wijanna Nene Lampe" (Bersatu, mengingat,
saling akur, dan menjaga silaturahmi keturunan Nenek Lampe).
Acara yang
dipimpin langsung oleh Ketua Panitia, Muhammad Takdir Rasyid, kemudian
dilanjutkan di lokasi utama yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an.
Setelah itu, untuk menyegarkan kembali ingatan kolektif, panitia menyajikan
sesi selayang pandang mengenai riwayat hidup Nenek Lampe serta pemaparan
silsilah.
Diketahui
dari sejarahnya, pasangan Nenek Lampe dan Nenek Pundung dianugerahi 10 orang
anak.
Yakni
1.Hj hawa
2.Wa’ King
3.Wa’ Made
4.Wa’ Salehe
5.H. Larrang
6.Wa’
Pawella
7.Wa’ Lantori
8. Wa’ Lamma
9.Wa’ Pessa
10.Hj. Hadawiyah
Dari 10
bersaudara inilah, pohon keluarga mereka tumbuh rimbun hingga melahirkan
ratusan keturunan yang kini hidup menyebar di berbagai penjuru daerah.
Untuk menambah keberkahan, acara juga diisi dengan tausiah agama yang memberikan siraman rohani tentang pentingnya menyambung tali silaturahmi antar-kerabat, diikuti dengan doa bersama.
Dalam
sambutannya yang penuh haru, Muhammad Takdir Rasyid menyampaikan rasa syukur
yang mendalam atas terselenggaranya pertemuan akbar ini.
“Alhamdulillah,
hari ini kita bisa berkumpul kembali dalam keadaan sehat walafiat. Tujuan utama
kegiatan ini adalah mempererat tali persaudaraan, menjaga warisan leluhur,
serta memperkuat hubungan antar seluruh anggota keluarga besar Nenek Lampe dan
Nenek Pundung,” ujarnya.
Ia juga
menaruh harapan besar agar reuni ini terus menjadi tradisi yang berkelanjutan
demi generasi masa depan.
“Semoga
kebersamaan ini membawa berkah, menjaga nama baik keluarga, dan menjadi contoh
yang baik bagi generasi penerus agar ikatan kekeluargaan tidak terputus meski
jarak dan waktu memisahkan,” tambah Takdir.
Suasana kekeluargaan semakin kental saat memasuki sesi makan bersama yang diselingi dengan saling berkenalan dan berbagi cerita masa lalu dari para tetua keluarga. Kehadiran warga sekitar dan tokoh masyarakat setempat turut menambah kehangatan dan memberikan dukungan moral atas lestarinya nilai gotong royong di desa tersebut.
Menjelang
penghujung acara, suasana yang tadinya haru dan khidmat berubah menjadi riuh
rendah penuh keceriaan. Panitia menggelar berbagai permainan (games) seru yang
melibatkan seluruh lintas generasi mulai dari anak-anak, remaja, hingga para
orang tua. Gelak tawa pecah saat para peserta berkompetisi dalam permainan:
·
Lomba tiup
balon
·
Menyusun
puzzle
·
Goyang balon
berpasangan, hingga
·
Permainan
seru goyang kursi.
Acara yang
berkesan ini akhirnya ditutup dengan harapan besar agar pertemuan serupa dapat
kembali terlaksana di masa yang akan datang. Jarak boleh memisahkan tempat
tinggal mereka, namun darah, asih, dan doa dari Wijanna Nenek Lampe dan Nenek Pundung
akan selalu menyatukan hati mereka




