Ziarah Spiritual Romli PCNU Sidrap di Muktamar NU ke-35 Jombang: Menjemput Berkah, Menebar Ukhuwah

KABAR ZODIAC.COM, JOMBANG — Suasana hari kedua Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026), tidak hanya diwarnai dinamika persidangan, tetapi juga gelombang spiritualitas yang mendalam. Rombongan Lillahi Ta'ala (Romli) dari Keluarga Besar PCNU Sidenreng Rappang (Sidrap) memanfaatkan momen akbar ini untuk melaksanakan wisata religi menapak jejak para pendiri bangsa dan ulama besar Nusantara.

Perjalanan spiritual ini dimulai dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Di kompleks pesantren bersejarah tersebut, rombongan khusyuk memanjatkan doa di makam para Muassis NU, yakni Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari, Menteri Agama RI pertama KH. Wahid Hasyim, hingga Presiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Usai berziarah, rombongan memperkaya wawasan keislaman dengan mengunjungi Museum Islam Indonesia Hasyim Asy'ari (MINHA) yang berada persis di sekitar area makam.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif di Denanyar, Jombang, untuk bersimpuh di makam KH. Bisri Syansuri. Sebagai bagian dari tiga serangkai pendiri NU bersama KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Abdul Wahab Chasbullah, sosok Kiai Bisri dikenal luas sebagai ulama karismatik yang pakar dalam bidang fikih sekaligus politik Islam, serta kakek dari Gus Dur dari jalur ibu.

Meski harus berjalan kaki menuju arena utama Muktamar di Pesantren Bahrul Ulum akibat padatnya lautan pengunjung, semangat rombongan PCNU Sidrap sama sekali tidak surut. Kehadiran mereka mencerminkan esensi sejati dari kehadiran para "Romli".

Sebagaimana diungkapkan oleh H. Asri Kasman, bagi kaum Nahdliyin, Muktamar bukan sekadar ajang suksesi kepemimpinan, melainkan momentum agung untuk merajut kembali silaturahmi lintas daerah dan memperkokoh ukhuwah nahdliyah.

Senada dengan hal tersebut, Ustadz Wahidin menegaskan bahwa gelombang besar peserta non-resmi atau Romli hadir dengan ketulusan dan riang gembira.

"Mereka datang dari berbagai penjuru untuk bersaudara dan menjaga kebersamaan, tanpa terpengaruh dinamika elite. Siapa pun yang terpilih nantinya, diyakini sebagai takdir terbaik demi kemaslahatan jam'iyyah Nahdlatul Ulama," ujar Ustadz Wahidin penuh optimisme.

Perjalanan ziarah ini membuktikan bahwa energi Muktamar NU ke-35 tidak hanya berpusat di ruang-ruang sidang yang megah, tetapi juga berdenyut kuat di makam-makam para kekasih Allah menghidupkan kembali ruh ketulusan, keikhlasan, dan cinta tanah air para ulama terdahulu.


Topik Terkait

Baca Juga :