Penyuluhan Lubang Biopori: Upaya Pengelolaan Sampah dan Peningkatan Resapan Air di Desa Buntu Buangin

KABAR ZODIAC.COM, SIDRAP – Sebagai bagian dari program Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi Daerah (KKN-T) Gelombang 115 Universitas Hasanuddin, mahasiswa Natasya Ada' Tunggala dari Fakultas Kehutanan, melaksanakan program kerja individu yang bertajuk Penyuluhan Lubang Biopori di Desa Buntu Buangin, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Januari 2026, bertempat di rumah Bapak Kepala Dusun 1 Jambu-Jambu dan dihadiri oleh warga setempat, staf desa, serta perangkat desa termasuk Kasi Pelayanan.


Penyuluhan ini dimulai dengan pembagian selebaran informasi yang berisi pengertian, manfaat, dan cara pembuatan lubang resapan air biopori. Natasya, selaku pemateri, berharap dengan adanya selebaran ini, warga dapat lebih mudah memahami topik yang akan dibahas. Dalam pemaparan, Natasya menjelaskan secara rinci apa itu biopori, alat-alat yang diperlukan, serta langkah-langkah praktis dalam pembuatan lubang resapan biopori. Tidak hanya itu, Natasya juga memberikan contoh langsung, mulai dari pembuatan biopori menggunakan ring sumur hingga pemanfaatan wadah bekas seperti galon untuk pembuatan biopori dalam skala kecil.


Setelah sesi penjelasan teori, kegiatan berlanjut dengan praktik langsung. Natasya mempraktekkan pembuatan lubang biopori di halaman rumah Bapak Kepala Dusun menggunakan pipa ukuran 3 inci. Pipa ini kemudian diisi dengan sampah organik rumah tangga, seperti sisa sayuran dan daun-daun kering, yang bertujuan untuk mempercepat proses penguraian sampah oleh mikroorganisme dan cacing tanah.

Dalam praktik ini, warga diberikan kesempatan untuk langsung terlibat, melihat cara pembuatan lubang biopori yang sederhana namun sangat bermanfaat bagi lingkungan mereka. Lubang biopori ini tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan daya serap air hujan, tetapi juga membantu mencegah genangan dan banjir, serta menjaga kelembaban tanah. Selain itu, sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan terurai menjadi kompos alami yang dapat memperkaya kualitas tanah di sekitar rumah.


Natasya menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga secara mandiri. "Lubang biopori ini mungkin tampak sederhana, tetapi manfaatnya sangat besar. Dengan meningkatkan resapan air hujan, kita dapat mengurangi masalah genangan air yang sering terjadi setelah hujan deras. Selain itu, sampah organik yang selama ini mungkin menjadi masalah, bisa diubah menjadi kompos yang sangat berguna untuk menyuburkan tanah," ungkap Natasya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa lubang biopori menciptakan pori-pori alami di tanah yang membantu air hujan meresap lebih dalam. Pori-pori ini terbentuk berkat aktivitas cacing tanah dan mikroorganisme yang menguraikan sampah organik, yang kemudian memperkaya nutrisi tanah. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya membantu mengatasi masalah lingkungan, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga kesehatan ekosistem di sekitar mereka.

Kepala Desa Buntu Buangin, Ramli Paki, memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini. "Program seperti ini sangat penting untuk masyarakat kami. Selain dapat membantu mengatasi masalah banjir dan genangan, penyuluhan tentang lubang biopori juga memberikan alternatif yang ramah lingkungan dalam mengelola sampah rumah tangga. Ini adalah langkah kecil yang memiliki dampak besar bagi kebersihan dan keberlanjutan lingkungan desa kami," ujarnya.

Ramli Paki berharap agar kegiatan serupa dapat dilanjutkan dan diadaptasi di seluruh desa, sehingga masyarakat dapat lebih peduli dan berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan serta memperbaiki kualitas tanah.


Melalui kegiatan ini, Natasya berharap agar warga Desa Buntu Buangin dapat mengadopsi teknologi biopori dan menerapkannya di rumah mereka masing-masing. "Mulailah dari hal-hal kecil, seperti mengelola sampah organik dan membuat lubang biopori, untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Saya berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan melalui aksi nyata," pungkas Natasya.




Topik Terkait

Baca Juga :